Jarang Dijual “Jagung” Tetap Menjadi Pilihan Petani Setiap Tahun

Jagung tanaman umur pendek yang selalu menjadi pilihan para petani Desa Fulur dan sekitarnya. Selain karena kondisi tanah yang cocok untuk bertanam jagung, tradisi turun temurun juga menjadi salah satu faktor penyebab mengapa jagung tetap ditanam oleh warga setiap musim tanam.

Meskipun demikian biasanya jagung hanya dijadikan makanan tambahan oleh warga dan tidak lagi menjadi bahan makanan pokok warga karena beras padi mudah di dapat. Biasanya jagung diolah menjadi makanan baik itu berupa Jagung bakar,direbus, digiling untuk dijadikan beras sebagai bahan campuran beras padi,juga  kebanyakan masyarakat mengolah jagung menjadi makanan khas daerah timor yakni “Jagung Bose”, tepung sisa pengolahan jagung biasanya digunakan sebagai bahan pakan ternak babi.
Selama ini menurut Martina Goru seorang petani Desa Fulur yang juga adalah Pamong Tani desa Fulur kepada pewarta fulur.desa.id mengakui bahwa dirinya hanya menjadikan jagung untuk dikonsumsi saja dan  jarang  dijual untuk menambah penghasilan, Kebiasaan Martina dan warga desa Fulur setiap kali panen jagung jarang terlintas di pikiran mereka untuk menjual jagung miliknya, Mereka hanya menjual jagung kalau ada kebutuhan mendadak.
Komoditas lainnya yang dijual warga adalah Kacang tanah, Bawang Merah, Bawang putih.Serta hasil Hutan dan ternak. Semua warga menanam jagung setiap tahun tetapi tidak semua petani menanam Bawang dan kacang Tanah.
Jagung adalah potensi yang sangat besar untuk meningkatkan perekonomian warga tetapi sejauh ini belum mampu di optimalkan oleh warga.Jika dikelola secara baik dan kalau kondisi pasaran memungkinkan maka kedepan para petani bisa mengoptimalkan lahan mereka untuk bertanam jagung sebagai komoditas utama yang dapat menghasilkan uang

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan