Lahan Tidur antara Potensi dan Masalah Bagi Petani

Wilayah Desa Fulur merupakan wilayah dengan topografi berbukit yang didominasi oleh tumbuhan semak belukar. Apabila berkunjung ke wilayah ini maka yang akan terlihat adalah hamparan semak belukar yang hampir memenuhi seluruh wilayah desa, Hal ini disebabkan karena masyarakat petani di Desa Fulur masih menerapkan Pola Tebas bakar dan berpindah serta juga masih menerapkan pola tanam satu tahunan.Saat musim tanam tiba lahan lama yang pernah digarap akan ditinggalkan dan petani akan membuka lahan baru yang lebat untuk untuk ditanami. Kebiasaan petani ini merupakan penyebab gundulnya hutan yang berdampak pada terbatasnya debit air saat musim kemarau tiba.
Kebiasaan warga ini sudah dilakukan turun temurun, dampaknya nampak jelas kelihatan namun kebiasaan ini tetap dipertahankan. Selain mengakibatkan gundulnya hutan juga banyak lahan yang akhirnya tidak diolah karena ditinggalkan sehingga menyebabkan banyaknya lahan tidur. Lahan tersedia tapi pengolahan belum optimal, Hutan dirusak, Debit air menurun, Pola pikir tradisional, lahan tidur dimana-mana, hasil pertanian terjual murah, inilah deretan masalah petani tradisional di Desa Fulur.
Edmundus Mau seorang warga Desa Fulur ketika ditemui pewarta fulu.desa.id menyampaikan bahwa untuk Menyikapi permasalahan ini tentu sangat diharapkan peran berbagai pihak, terutama pemerintah ( Instansi Terkait ) untuk proaktif dalam melihat menganalisa dan memberi solusi terhadap permasalahan petani ini. Perlu di akui bahwa memang sudah dilakukan berbagai upaya untuk mengatasi masalah ini tetapi belum optimal, dengan adanya Petugas Penyuluh Lapangan ( PPL ) cukup memberi sedikit perubahan namun sejauh ini cara berpikir masyarakat masih juga belum berubah.
Pola pendekatan Masalah yang digunakan selama ini oleh berbagai pihak sehingga target kerjanya hanya terbatas pada masalah yang ada. Banyak Potensi yang ada di Desa Berupa luasnya lahan pertanian yang tidur, Masyarakat yang sudah hidup dengan bertani turun temurun , ini semua adalah potensi besar yang dimiliki oleh kita, maka Sebaiknya Pendekatan berbasis Potensi yang harus digunakan untuk kemajuan para petani, ujar Edmundus.

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan