IRONI PENDIDIKAN DI BATAS NEGERI

sideka fulur.desa.id :// ( Repost) Pembangunan adalah cara untuk Mengukur  kemajuan sebuah bangsa. Pembangunan di segala lini terus dikebut mulai dari pembangunan Infrastruktur dan Sumber Daya Manusia. Sebagai salah satu propinsi yang berbatasan dengan dua negara yakni Australia – batas laut dan Timor leste – batas darat Negara mulai berbenah. Setelah sekian lama luput dari perhatian Pemerintah, Kabupaten Belu  Propinsi Nusa Tenggara Timur Mulai mendapat perhatian, Jalan Sabuk Perbatasan dan  Bendungan  dibangun, Pos Lintas batas Negara juga dibangun megah di Dua titik perbatasan Indonesia – Timor Leste yakni di Motaain Kecamatan Tasifeto Timur Kabupaten Belu, dan Di Motamasin Kecamatan Kobalima Timur Kabupaten Malaka Demi menunjukan martabat bangsa Indonesia di hadapan bangsa lain.

Selain itu Infrastruktur di level desa juga mulai dikebut mulai dari Pembangunan Fasilitas Kesehatan, Jalan Usaha Tani, Fasilitas kesehatan Seperti POSKESDES dan lainnya. Selain itu pemerintah juga mensubsidi kehidupan warga melalui bantuan Raskin, PKH, Kartu Indonesia Sehat (KIS), Kartu Indonesia Pintar (KIS) dan Bantuan lainnya. Semua itu agar Negara memastikan bahwa rakyatnya mendapat kepastian hidup yang jelas, dapat makan, dapat berobat dan anak-anak dapat menempuh pendidikan yang layak. Dari sekian banyak hal yang diperhatikan oleh negara ternyata masih tersisa juga sekian banyak pekerjaan yang harus diperhatikan oleh negara. Salah satu contoh permasalahan yang masih sangat membutuhkan perhatian dari pemerintah adalah dari sisi pendidikan. Sebagai salah satu Aspek yang sangat penting dalam proses pembangunan Sumber Daya Manusia di negeri ini Pendidikan di daerah perbatasan juga semestinya di beri perhatian khusus, Bukan hanya dari segi fasilitas dan beasiswa KIP nya saja, namun yang juga cukup penting Negara lakukan adalah bagaimana memperhatikan kesejahteraan para Guru.

Pewarta fulur.desa.id dalam sebuah perbincangan dengan para guru Di beberapa sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama yang tersebar di perbatasan di Dua Kecamatan yakni kecamatan Lamaknen dan Lamaknen Selatan saat ini kebanyakan Sekolah para gurunya merupakan Guru Honorer yang hanya diupah Rp.100.000 – 250.000 per bulan, Bahkan ada Sekolah SMP dari yang Guru PNS nya hanya Dua orang, Ironis memang disaat pemerintah berupaya untuk meningkatkan kualitas Sumber daya manusia Indonesia dengan berbagai macam cara di saat yang sama para Guru harus meringis menanggung beban yang sangat berat. Semangat pengabdian para guru yang tak kenal lelah selalu dihantui kegelisahan hati, dalam setiap langkah menuju sekolah demi anak didiknya para guru ini harus berkecamuk dengan ribuan kekhawatiran mereka tentang nasibnya.  Antara mereka harus tetap bertahan ataukah mereka harus pergi meninggalkan panggilan hidupnya sebagai seorang Guru. Tapi mereka tetap bertahan walau upahnya tidak cukup untuk hanya sekedar membeli sabun, walau Lelah orang tua mereka yang telah berkorban menyekolahkan mereka tidak dapat terbayar. Jangankan mendapat upah yang layak untuk mendapat NUPTK saja para guru ini harus mengantongi SK Bupati Sementara Beban APBD sudah tidak mampu mengcover tenaga Kontrak Daerah. Setidaknya kalau mereka memiliki NUPTK bisa diberi tunjangan Khusus Perbatasan, Tapi jalan terjal nampaknya terus menghalangi para guru ini. Mereka tetap bertahan walau bukan senyum yang mereka untai saat dibayar, mereka seolah-olah tidak dihargai dengan upah yang sangat tidak layak. Tekad mereka yang telah terpatri di dalam jiwa sebagai seorang guru anak Desa tetap mendorong langkah mereka ke Sekolah tempat mereka menebar senyum harapan kepada anak didiknya.

Mereka yang menjadi kunci keberhasilan dan Ujung tombak dari perjuangan bangsa seolah luput dari perhatian pemerintahnya sendiri. Sebagai wilayah  perbatasan infrastruktur memang perlu diperhatikan namun penting juga memperhatikan mereka yang mengabdi. Dalam Nawa Cita ke Tiga Presiden Joko Widodo “Membangun Indonesia dari Pinggiran “ harusnya juga Mereka menjadi agenda yang perlu diperhatikan, Mereka telah mengabdi demi membentuk karakter dan Intelektualitas anak  bangsa di Pinggiran NKRI.  Mereka jangan terus Dipinggirkan Beri Mereka Harapan.

Liputan : Suri Lebo Eduardus

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan