SEKILAS MENATAP NASIB GURU “PAUD” PERBATASAN

Sideka ; fulur.desa.id// Ada yang bilang, kemajuan suatu bangsa, berada di tangan generasinya, dengan menciptakan generasi yang berkualitas dengan sumber dayanya. Dan bagaimana cara memulainya? Jawabannya, dengan meningkatkan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), salah satunya.

Satu buah bangunan rumah di Desa Fulur, Kecamatan Lamaknen, disulap menjadi arena bermain anak- anak di desa Fulur. Cukup luas, untuk ukuran tempat bermain anak yang mengenyam Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Di sana, setiap anak menghabiskan waktu sehariannya menjadikan tempat bermain di luar jam bimbingan. Ada aneka alat peraga permainan yang tersedia. Ada permainan bongkar pasang bergambar, Aneka ragam poster jenis binatang dan tumbuhan, kertas lipat, dengan beragam corak warna. Bukan hanya itu, di luar juga, sudah tersedia ayunan, lengkap dengan permainan perosotan anak.

Mereka terlihat asyik bermain dan belajar, sementara ayah dan ibu mereka, masih disibukkan dengan berkebun. Dan, sebagai pengganti peran orang tua mereka, adalah guru-guru. Selain memberikan materi bernyanyi, mereka juga yang mengajarkan tiap anak bagaimana mengenal lingkungan dan alam lebih dekat. Mengasah pikiran anak dengan cara bermain dan belajar dengan harapan kelak jika besar nanti, si anak dapat bertumbuh kembang dengan baik. Pekerjaan itu merupakan rutinitas yang diemban oleh mereka. Dalam pengabdian mereka, mereka tidak pernah menuntut besarnya upah yang mereka peroleh tetapi kesenangan dan kenyamanan yang diperoleh anak didik mereka menjadi motivasi bagi mereka.

Di PAUD, mereka mengajarkan metode motorik setiap anak. Misalnya, mengubah prilaku anak, yang semula takut dan pemalu, kini menjadi berani bermain dengan sesamanya. Mengajarkan bagaimana cara berbahasa yang baik, hingga prilaku bagaimana cara makan, cara mencuci tangan, dan cara masuk kamar kecil. Dan tidak kalah menariknya adalah menceritakan atau mendongeng di depan anak, kemudian si anak disuruh menceritakan kembali apa yang diceritakannya. “Tujuannya agar mengetahui, seberapa kuat daya tangkap dan daya ingat setiap anak.” Menjadi seorang guru PAUD, ternyata harus siap menanggung resiko dan cobaan, apalagi honor yang didapat dari keringat mengajar tak sebanding dengan pengeluaran sehari- hari. Sehingga wajarlah, jika kebanyakan menjadi guru PAUD karena terdorong panggilan batin untuk membentuk mental dan prilaku anak usia dini dari keluarga yang kurang mampu bisa menikmati pendidikan dengan anak lainnya.

Fenomena ini mengingatkan kita pada sebuah film layar lebar, berjudul “Laskar Pelangi”. Dimana film tersebut menceritakan kegigihan seorang guru yang tanpa digaji namun rela mengajarkan ilmu pengetahuan pada anak- anak. Tujuannya hanya satu, menjadi anak yang berguna di kemudian hari. Cerita “Laskar Pelangi” ternyata masih banyak ditemukan di pelosok daerah Kabupaten Belu, khususnya. Selama ini memang sudah ada bantuan untuk pendidikan PAUD, tetapi belum cukup. Muncul pertanyaan, bagaimana yang harus kita lihat, bagaimana kesiapan kita semua, agar keberadaan PAUD dapat meningkatkan layanan PAUD bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.? Mengingat anak usia dini merupakan peletak dasar bagi pertumbuhan dan perkembangan anak selanjutnya. Walaupun setiap bayi yang lahir telah diberikan Tuhan dengan potensi genetik yang demikiaan sempurna, tetapi lingkungan juga mempunyai peran besar dalam pembentukan sikap, kepribadian dan pengembangan kemampuan anak.

Lantas, bagaimana dengan kesiapan tenaga pendidik dengan honor terbatas untuk dapat terus memberikan ilmu yang terbaik pada setiap anak yang mengikuti pendidikan PAUD, seperti yang terjadi pada guru-guru PAUD diwilayah tapal batas RI – RDTL (Republik Demokrat Timor Leste) ??. Dan sangat disayangkan lagi, rendahnya mutu dan keprofesionalan tenaga guru disebabkan karena penguasaan materi pembelajaran, penguasaan metode mengajar, kreatifitas, kemampuan mengevaluasi sampai membimbing siswa masih banyak yang rendah. “Salah satu faktornya adalah kurangnya pembinaan dan kurangnya kesejahteraan yang meliputi penghasilan dan perlindungan,”

Pada hakekatnya, PAUD ibarat kegiatan menyemai padi. Dalam proses kandungan sudah harus diperhatikan asupan gizi si janin, berarti persiapan benih bibit yang baik benar-benar dimatangkan. Sedangkan PAUD bagian dari kelanjutan penyiapan benih yang baik itu. Untuk itu, saya mengajak para pembaca dan seluruh elemen masyarakat serta Pemerintah Republik Indonesia untuk membentuk pemahaman dan pemikiran, bahwa pendidikan pada PAUD sangat penting bagi kemajuan mereka dan terutama pada masa depan generasi kedepan karena  persepsi itu ibarat menyiapkan benih unggul sedari dini. Disamping itu pula kesejahteraan para guru “PAUD” (Honor) harus diperhatikan sebaikmungkin sehingga proses Pendidikan Anak Usia Dini dapat dilakukan secara optimal.  Dengan demikian, masa depan generasi-generasi bangsa Indonesia akan terus meningkat dan pada akhirnya kualitas Sumber Daya Manusia di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia pun terus berkembang.

Liputan : Berelekyanto//

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan