DETEKSI DINI BENCANA TANAH LONGSOR DI DESA FULUR

Sideka : fulur.desa.id// Tanah longsor adalah perpindahan material pembentuk lereng berupa batuan, tanah, atau material campuran yang bergerak kebawah atau keluar lereng. Proses terjadinya tanah longsor dapat disebabkan air yang meresap ke dalam tanah akan menambah bobot tanah. Jika air tersebut menembus sampai tanah kedap air yang berperan sebagai bidang gelincir, maka tanah menjadi licin dan tanah pelapukan di atasnya akan bergerak mengikuti lereng dan keluar lereng.

Tanah longsor merupakan salah satu bencana alam yang paling sering melanda Indonesia dengan tingkat kerugian yang cukup besar. Bencana tanah longsor  ini tersebar hampir di semua wilayah dalam cakupan Negara Kesatuan Republik Indonesia serta sering terjadi di wilayah pemukiman masyarakat yang padat penduduknya  sehingga menyebabkan ratusan hingga ribuan korban jiwa. Disamping itu pula sekian banyak rumah tempat tinggal penduduk pun ambruk akibat terjadinya longsor. Fenomena seperti ini pun terjadi dan menimpa warga  masyarakat Desa Fulur, Kecamatan Lamaknen, Kabupaten Belu, Provinsi NTT.

Ironisnya, selama ini sistem peringatan dini untuk tanah longsor di Indonesia pada umumnya dan Desa Fulur pada khususnya masih sangat minim. Dari ribuan lokasi rawan longsor, hanya beberapa lokasi saja yang sudah dilengkapi dengan sistem peringatan dini. Untuk itu, sistem peringatan dini tanah longsor menjadi pilihan yang bijak dan cukup mendesak untuk segera disosialisasi dan realisasikan. Dengan sistem peringatan dini ini diharapkan masyarakat yang berada di lokasi rawan longsor akan lebih waspada terhadap kemungkinan bahaya yang datangnya tiba-tiba sehingga kerugian terutama korban jiwa bisa diminimalisir.

Saat ini, tim dari Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) bekerjasama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana  (BNPB) serta Badan Penanggulan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Belu telah melakukan pemasangan peralatan sistem peringatan dini dan sosialisasi mengenai bahaya bencana longsor serta penanggulannya di Desa Fulur, Kecamatan Lamaknen, Kabupaten Belu, Provinsi NTT.

Kepala Desa Fulur “Julianus Lesu Bau” menegaskan bahwa  pemasangan sistem deteksi dini bencana tanah longsor di wilayah Desa Fulur ini merupakan satu kebijakan yang tepat karena sistem deteksi dini bencana tanah longsor ini dapat meminimalisir adanya korban jiwa. disamping itu, Kepala Desa pun menyampaikan bahwa alat deteksi ini sangat membantu masyarakat Desa Fulur untuk mengetahui informasi gejalah tanah longsor sehingga upaya evakuasi dapat dilakukan secara dini.

Di lokasi wilayah Desa Fulur di pasang  beberapa alat pendeteksi diantaranya  ; 1 unit server untuk menangkap dan meneruskan sinyal ke server pada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), 2 unit ekstensometer yang berfungsi untuk  mengukur penambahan rekahan tanah, 1 unit tiltmeter yang berfungsi untuk  mengukur kemiringan tanah, 1 unit rain gauge yang fungsinya untuk mengukur curah hujan, serta 1 unit speaker untuk memberikan informasi peringatan kepada masyarakat sekitar area pemasangan alat deteksi dini sehingga gejalah terjadinya bencana tanah longsor dapat diketahui secara dini. Salah satu kelebihan sistem ini adalah terintegrasinya rain gauge dengan extensometer sehingga salah satu faktor penyebab terjadinya tanah longsor yakni curah hujan yang tinggi hingga menyebabkan adanya pergerakan tanah dapat dipantau.

Sistem deteksi dini bencana tanah longor ini merupakan upaya BNPB bekerjasama dengan BPBD Kabupaten Belu dalam rangka meminimalisir korban bencana longsor di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia pada umumnya dan Desa Fulur pada khususnya. Oleh karena itu, apresiasi yang besar dari pemerintah Desa Fulur dan seluruh masyarakat Desa Fulur diberikan kepada semua instansi terkait baik Pemerintah Daerah, Pemerintah Provinsi, maupun Pemerintah Pusat. Semoga penerapan sistem ini dapat bermamfaat bagi warga masyarakat Desa Fulur dan pemerataan realisasi sistem deteksi dini bencana tanah longsor ini dapat menyentuh seluruh wilayah di Negara Kesatuan Republik Indonesia terutama wilayah-wilayah perbatasan sehingga upaya meminimalisir korban bencana longsor dapat tercapai secara optimal.

foto&Liputan : Berelekyanto

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan