MENINGKATKAN KUALITAS PENDIDIKAN ; BUTUH GURU YANG SEJATI

 

Sideka : fulur.desa.id//  Ada pepatah “Kita harus berani melaut dengan layar dan dayung apa adanya”. Dalam situasi yang serba melaju sangat cepat kita harus mampu meremajakan diri. Perkembangan zaman yang serba instant sangat berpengaruh terhadap dunia pendidikan saat ini. Dalam artian zaman yang serba berubah segala-galanya mempunyai dampak yang luas dalam dunia pendidikan. Semua masyarakat pastinya menginginkan pendidikan yang maju dan berprestasi. Bangsa yang maju dan berkembang adalah bangsa yang mempunyai peradaban yang tinggi. Peradaban dapat diciptakan melalui pendidikan. Pendidikan merupakan salah satu faktor pendukung paling penting dalam kemajuan suatu  bangsa. Semenjak bangsa Indonesia merdeka tahun 1945, prioritas pertama pemerintah Indonesia adalah memajukan pendidikan.

Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan atau latihan bagi peranannya di masa yang akan datang. salah satu arah kebijakan pembangunan pendidikan adalah mengupayakan perluasan dan pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan yang bermutu tinggi bagi seluruh rakyat Indonesia. Kegiatan pendidikan sebagai realitas sosial adalah merupakan kegiatan yang terarah, karena dalam kegiatan pendidikan dapat dijadikan kegiatan penelitian dan atau dapat dijadikan sebagai objek pemikiran.

Lantas, untuk memajukan pendidikan di Indonesia pada umumnya sosok yang berperan amat penting, atau bahkan terpenting, yakni sosok guru. Ironisnya, nasib guru sangat tidak diperhatikan oleh pemerintah terutama guru-guru yang berada di tapal batas timor leste. Guru adalah pekerjaan yang membutuhan profesi. Belakangan ini ada yang menggangap bahwa profesi guru adalah profesi ‘kering’. Bahkan ada yang menyatakan bahwa harkat dan derajat guru di mata masyarakat merosot, seolah-olah menjadi warga  negara kelas dua.

Tidak dapat dipungkiri lagi jika penghasilan guru jauh di bawah rata-rata kalangan profesional lainnya. Sementara itu, kenyataan yang ada saat ini guru di mata murid-murid pun kian jatuh. murid-murid masa kini, khususnya yang menduduki sekolah-sekolah menengah di kota-kota pada umumnya hanya cenderung menghormati guru karena ada udang dibalik batu. Sebagian peserta didik di kota menghormati guru karena ingin mendapat nilai yang tinggi atau naik kelas dengan peringkat tinggi tanpa kerja keras’.

Maka dari itu, guru harus memiliki profesionalisme keguruan. Jika kualitas pendidikan kita ingin maju dan berkembang tentunya diperlukan tenaga pendidik yang handal dan berdedikasi tinggi. Guru sebagai pendidik ataupun pengajar merupakan faktor penentu kesuksesan setiap usaha pendidikan. Oleh karena itu, sikap-tindak guru dalam dunia pendidikan (sekolah-sekolah) harus mengutamakan kearifan. Anak perlu diajar patuh pada peraturan, disiplin yang konsekuen, menanggapi teguran yang serius.

Dalam proses belajar mengajar siswa membutuhkan motivasi. Perlu diketahui bahwa siswa atau peserta didik itu terdiri dari beberapa latar belakang. Maka dari itu, guru hendaklah tidak lagi berperan seperti yang kini sudah begitu luas (untuk tidak mengatakan selalu) menjadi dan bergaya penatar, instruktor, komandan,atau bahkan birokrat,. Namun harus diajak kembali menjadi guru dan pendidik, yang dapat memberikan motivasi pada peserta didik atau siswa. Dengan demikian akan ada keseimbangan antara guru dan siswa. Akan lebih menarik lagi jika sekolah dapat menghirup suasana kekeluargaan. Maka yang dikembangkan bukanlah iklim kompetensi dalam merebut kejuaraan/rangking, namun kesetiakawanan/solidaritas dalam segala usahanya. Lebih khusus murid dengan murid. Sejajar dengan itu, guru perlu memberikan motivasi atau dorongan kepada siswa agar siswa mampu belajar dengan baik.

Oleh karena itu, para guru harus yakin bahwa sebenarnya tidak ada murid yang bodoh. Perlu diingat bahwa murid adalah makhluk ciptaan Tuhan yang oleh Tuhan sendiri telah dibekali naluri dasar yang ingin bertumbuh dan mekar. Guru harus sadar bahwa dengan membodoh-bodohkan anak, lama-kelamaan si anak akan merasa dirinya memang bodoh dan bernasib bodoh, serta selamanya bodoh. Guru tidak boleh memotovasi atau memberikan dorongan yang jelek. Maka ada isitilah dosa besar guru terhadap anak misikin adalah membodoh-bodohkan dan menjelek-jelekan anak, apalagi di muka teman-temannya. Namun ada perkecualian dan ini agak langka salah satunya adalah siswa tersebut sudah terlanjur luar biasa sikap buruknya dan kenakalannya sehingga menjadi sumber keburukan bagi anak-anak lainnya.

Setiap anak mempunyai kemampuan daya irama dan proses belajar sendiri. Sekali lagi, di dalam diri siswa atau setiap anak telah dianugerahi Tuhan benih-benih niat dan akal untuk semakin tahu dan paham tentang semua hal yang ia jumpai atau alami, untuk bermekar dan maju. Guru dan mahaguru yang ia jumpai adalah dirinya sendiri, selanjutnya keluarga, lingkungan, dan guru di sekolah. Sebagai guru yang memberi motivasi pada anak didik atau siswa harus percaya kepada anak didik, bahwa dia sendirilah yang ingin cerdas dan maju. Jika terjadi kasus, ada anak yang malas atau tidak memperhatikan guru di kelas, janganlah lekas-lekas menyalahkan murid, tetapi sebaiknya kita sebagai guru yang baik, selalu memeriksa dan mengkritik diri sendiri dahulu. Maka dari itu motivasi guru kepada anak didik atau peserta didik harus disamaratakan.

liputan : SIDEKA.fulur.

Facebook Comments

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan